Tempeh served uniquely and attractively in the Temp[e]tation culinary event

Mengambil tajuk Temp(e)tation dengan tema ”When Tempe can make its own words”, Tempe disajikan secara menarik oleh tiga orang Chef Indonesia dari tiga negara, Belanda, Belgia dan Republik Ceko. 

Acara Temp(e)tation berlangsung Senin, 4 Mei 2015 di restoran Bali James, Breda, Belanda tersebut menghadirkan Chef Jimmy Lo Hamzah (Belanda), Yudi Yahya (Belgia) dan Ari Mundandar (Republik Ceko) dengan mengundang para jurnalis majalah kuliner, bloggers, pengusaha restoran, dan artis Belanda.

Tempe diolah sebagai bahan dasar aneka makanan yang sangat enak dan menarik, cocok untuk disajikan dalam ‘fine dining’. Tidak kalah dengan makanan dari manca negara, tiga chef Indonesia menerima tantangan untuk menyajikan tempe dengan rasa dan sajian yang menawan. 

Tempe yang biasanya diolah secara traditional, kali ini menjadi makanan kelas tinggi karena garapan ketiga chef tersebut. 

Chef Jimmy Lo Hamzah, menyajikan Botok Tempe yang biasanya dimasak secara tradisional kali ini menjadi makanan pembuka yang menarik selera. Dicampur dengan racikan ayam, daun kemangi, potongan kelapa dan dibungkus dengan daun pisang, Botok Tempe tersebut tetap terasa khas namun menjadi berbeda karena penyajian yang bagus. 

Selain Botok, Jimmy juga meyajikan Perkedel Tempe yang digabungkan dengan nasi dan sayur lodeh. Perkedel Tempe ini banyak yang mengatakan cocok sebagai pasangan sayur lodeh yang sedap.

Chef Yudi Yahya yang tampil pada sesi kedua, menyajikan Tempe yang dimasak mirip makanan Eropa dengan nama Le Tempe de Mer. Dipadu dengan scallop, asparagus dan mojo terasa sekali bahwa Tempe ini menjadi semacam ‘steak’ yang rasanya luar biasa. 

Sedangkan menu kedua yang disajikannya adalah Tempe yang dipadukan dengan udang, yang diberi nama Sailing Tempe on  Prawn. Tempe menjadi bahan utama untuk membuat puree. Disajikan bersama kentang, tempe yang sudah dilembutkan menjadi makanan yang lezat ketika disantap dengan udang bakar. 

Sesi terakhir dari acara Temp(e)taion ini menghadirkan Chef Ari Munandar. Chef Indonesia yang pernah menyajikan makanan untuk Dalai Lama dan Robert de Niro ini menampilkan makanan a-la Italia berbahan dasar Tempe. Raviolo Tempe Mangiami adalah kreasinya dimana Ari menampilkan potongan Tempe yang menjadi isi dari Raviolo, makanan khas Italia. Padu padan ini menghasilkan rasa yang enak dan penampilan yang tidak kalah menarik dibanding makanan Italia lainnya. 

Ari juga menyajikan Sparkling Seaworld, dimana disajikan ikan dan puree Tempe dengan sauce clam yang rasanya memanjakan lidah. 

Dalam pembukaan acara tersebut, Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Den Haag, Ibnu Wahyutomo mengatakan bahwa Tempe yang merupakan makanan tradisional khas Indonesia ini dapat menjadi salah satu aset diplomasi kuliner Indonesia. Ibnu juga menyinggung sedikit tentang asal usul Tempe dari Yogyakarta yang sejarahnya sama tuanya dengan sejarah Yogyakarta itu sendiri.

Para undangan juga mendapatkan penjelasan tentang asal usul Tempe yang sudah tertulis di Serat Sri Tanjung (Abad 12) dan  proses pembuatan Tempe di Jawa, Indonesia, termasuk berbagai jenis tempe yang ada seperti Tempe Koro, Tempe Benguk, dan Tempe Gembus.

Selama acara Temp(e)tation berlangsung, para undangan memberikan komentar yang rata-rata tidak menyangka bahwa ketika Tempe diolah dengan menggabungkan masakan lain, maka Tempe menjadi lebih unik, lebih enak dan lebih menarik. Makanan tersebut terasa seperti sesuatu yang menggabungkan antara Timur dan Barat, seperti pendapat Ricky Risolles, artis Belanda keturunan Indonesia yang sangat menyukai makanan leluhurnya, sehingga namanya beken-nya pun memilih Risolles. 

Detty Janssen, penggagas acara dan seorang food blogger, menyampaikan bahwa niatnya adalah untuk turut melakukan promosi Tempe yang sudah dikenal di Belanda. “Tempe yang selama ini biasa dimasak secara tradisional dapat ditingkatkan menjadi makanan kelas tinggi, tidak sebagai pengganti daging tapi muncul sebagai menu utama” ujar Detty, seorang WNI yang telah lama menetap di Belanda. 

Bagi Ari Munandar, menjajikan Tempe dengan kelas yang berbeda, merupakan tantangan tersendiri. Sebagai chef yang malang melintang di Republik Ceko, Ari sangat tertantang untuk dapat menginternasionalkan Tempe dan memasukkan dalam menu ‘fine-dining”. Sedangkan Yudi Yahya  menambahkan bahwa acara Temp(e)tation ini membuat ide-idenya berkembang dan mengispirasinya untuk membuat Tempe mempunyai rasa yang luar biasa. 

Acara Temp(e)tation ini merupakan salah satu bentuk diplomasi kuliner yang merupakan kerjasama antara KBRI Den Haag dengan masyarakat Indonesia di Belanda. Saat ini di seluruh Belanda terdapat sekitar 1.600 rumah makan Indonesia. Promosi Tempe menjadi salah satu makanan kelas tinggi adalah upaya menjadikan Tempe, yang mudah di dapat di Belanda, sebagai makanan khas Indonesia yang layak dikonsumsi di berbagai restoran dan hotel yang modern.

Den Haag, 5 Mei 2015