Hubungan RI-Belanda Diupayakan Tetap di Level Tinggi

Hubungan bilateral Indonesia-Belanda diupayakan tetap di level tinggi dan saling bisa memahami, demikian mengemuka dalam ramah-tamah antara Kuasa Usaha Ad-interim (KUAI) KBRI Den Haag Ibnu Wahyutomo dengan media di Belanda. 

KUAI mengundang jurnalis senior media di Belanda dalam Media Luncheon untuk mengenalkan diri dan santap siang bersama di KBRI Den Haag, Kamis (23 April 2015). 

Mereka antara lain Paul Jansen (De Telegraaf), Hilde Jansen (Algemeen Dagblad), John Othman (Indo Radio), Theo Harkens (freelancer, ex Geassocieerde Pers Diensten), Eddi Santosa (Detikcom), dan Roy Lee Tjam (Diplomat Magazine). 

“Pertemuan dengan media ini merupakan salah satu langkah strategis yang diambil oleh KBRI Den Haag untuk terus menjalin komunikasi dengan para jurnalis Belanda guna memberikan pemahaman mengenai Indonesia terkini,” ujar KUAI. 

KUAI antara lain menjelaskan mengenai update berbagai perkembangan hubungan Indonesia dan Belanda, termasuk masalah-masalah internasional yang tengah menjadi topik dunia. 

Sambil menikmati sajian pembuka berupa gado-gado Bali, dialog mengalir hangat sehangat sengatan cabe dari dressing sambal kacang yang juga sudah cukup luas dikenal di Belanda. 

Paul Jansen menyoroti eksekusi WNI di Arab Saudi di mana pemerintah Indonesia memprotes keras eksekusi tersebut. Padahal Indonesia sendiri melaksanakan hukuman mati, bahkan mengupayakan pembelaan bagi proses yang masih berjalan.

"Apakah ini bukan suatu standar ganda?" tanya Paul. 

KUAI menjelaskan bahwa langkah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah bagian dari perlindungan maksimal untuk warganya, sama halnya dengan upaya pemerintah Belanda untuk warganya. 

"Tetapi setelah segala upaya dilakukan, apa pun hasilnya penegakan hukum negara itu perlu dihormati," ujar KUAI. 

Mengenai hukuman mati di Indonesia, KUAI menjelaskan bahwa hal itu juga tidak mudah dijatuhkan, kecuali untuk pelaku kejahatan berat dengan dampak luar biasa, seperti para pelaku besar jaringan narkotika. 

"Bahkan pelaku delik kejahatan narkotika ringan secara umum di Indonesia mendapat hukuman penjara, menurut kadar kejahatannya sesuai UU," jelas KUAI. 

Dialog-dialog dengan isu-isu sensitif itu mengalir dalam suasana akrab. KUAI terlihat dengan telaten menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi dalam alam demokrasi Indonesia sudah cukup dewasa, bahkan di dalam rumah perwakilan Indonesia di negeri Belanda. 

Siapa Dubes Baru?

Sebelumnya, Paul Jansen menanyakan siapa Dubes baru RI untuk Den Haag sebagai penerus Dubes Retno Marsudi (kini Menlu, red). 

"Pengangkatannya masih dalam proses, dari proses internal Kemlu RI, kemudian fit and proper test di parlemen, briefing oleh Menlu, lalu masih perlu persetujuan dari negara akreditasi," papar KUAI. 

Mengenai apakah sudah ada kandidat? KUAI menjelaskan bahwa kalau soal nama belum jelas, tetapi bisa saja dari diplomat karir, akademia, parlemen, militer, tetapi kapabel untuk penempatan di Belanda. 

Ditanya mengapa di antara foto Dubes RI di Belanda belum ada foto Dubes Retno? KUAI mengatakan bahwa mengenai foto Dubes Retno masih menunggu versi yang sesuai. 

"Karena beliau mendapat penghargaan bintang jasa dari negara akreditasi Kerajaan Belanda maka kami sedang menunggu foto beliau dengan bintang jasa tersebut," jelas KUAI. 

Bukan Negaramu 

Pembicaraan selanjutnya berkembang sampai ke pengalaman-pengalaman masing-masing, termasuk pengalaman kurang mengenakkan, tetapi akhirnya malah menjadi kesan tak terlupakan.

Paul Jansen yang pernah tinggal di Kemang selama bertugas sebagai koresponden di Jakarta untuk De Telegraaf menceritakan bahwa dia pernah mengendarai mobil terus dari arah berlawanan ada pengendara lain yang melawan arus. 

Karena melanggar peraturan lalulintas dengan melawan arus, maka ketika sudah mendekat Paul menegur pengendara tersebut. Tetapi apa jawaban yang didapat? 

"It is not your country, Sir!" demikian orang itu malah membentak Paul. "Tetapi orang itu benar juga, bahwa saya sedang di negara asing," imbuh jurnalis senior ini dengan wajah memerah, tetapi dengan derai tawa dan geleng-geleng kepala. 

Sebaliknya Hilde Jansen mengemukakan kesannya ketika bertugas di Jakarta, betapa roda ekonomi di Jakarta berputar begitu cepat, pembangunan di mana-mana, bahkan di sekitar Kemang, tempat tinggalnya. 

Untuk mengakali kemacetan, Hilde memilih tidak membawa mobil, tetapi nekad mengendarai motor sebagaimana warga lokal. "Dengan naik motor saya bisa cepat sampai ke tujuan," cerita Hilde. 

Di Belanda pun juga ditemui pengalaman yang menjadi kesan tak terlupakan. Diplomat Indonesia menceritakan mengenai petugas pengontrol parkir Belanda yang overacting dalam mengenakan denda. 

Denda tetap dibayar, sebab hal-hal semacam ini di Belanda tidak termasuk ke dalam jaminan kekebalan diplomatik.

Kuliner Indonesia 

Pertemuan ramah-tamah itu juga dimanfaatkan untuk mempromosikan kuliner Indonesia berupa sajian masakan Bali: gado-gado Bali, nasi merah, ayam betutu, pepes ikan, sate lilit, kering tempe, sambal matah dan es teler sebagai penutup. 

Di luar dugaan, masakan khas Bali dengan rempah-rempah cukup tajam itu disukai oleh mereka, terutama yang pernah bertugas di Indonesia. 

Mengakhiri pertemuan, KUAI mengharapkan agar jalinan kontak dapat terus dibina dan dikembangkan di masa mendatang. 

Sementara itu Minister Counsellor Pensosbud Azis Nurwahyudi mengatakan bahwa dialog bebas dan terbuka yang diselenggarakan pihaknya itu dapat memupuk people to people contact dan berkontribusi pada peningkatan hubungan baik Indonesia-Belanda. 

"Setidaknya ada update pengetahuan mengenai kita, bahwa kita sudah cukup mapan dalam kebebasan berpendapat, sama seperti mereka," pungkas Azis.

 

 

 

Follow Us